Saya adalah seorang guru produktif SMK. Setiap hari saya berdiri mengajar di depan anak-anak muda yang masih belajar memahami dirinya sendiri, tetapi sudah dituntut siap menghadapi dunia kerja dan dunia industri.
Mereka datang dengan wearpack kucelnya, membawa tugas atau laporan praktik, dan kadang membawa beban hidup yang tidak pernah terlihat di ruang kelas. Ada yang harus membantu orang tua sepulang sekolah, ada yang harus bekerja sampingan untuk membantu ekonomi keluarga, ada yang datang ke sekolah tanpa semangat karena harus menjalani hidup sendiri tanpa orang tua, ada yang diam-diam takut tidak mendapatkan pekerjaan setelah lulus, ada juga yang terus memaksakan dirinya terlihat kuat meski sebenarnya lelah.
Di sekolah ini, mereka tidak hanya belajar pelajaran umum seperti matematika, bahasa Indonesia, atau teori lainnya. Mereka juga dipersiapkan menjadi bagian dari dunia industri sejak usia yang masih sangat muda. Mereka belajar keterampilan teknis. Belajar menghadapi target. Belajar disiplin waktu. Belajar bagaimana dunia kerja bergerak cepat dan tidak memberi banyak toleransi terhadap kesalahan. Bahkan mereka dituntut mencapai kompetensi industri bahkan sebelum benar-benar memahami kehidupan.
Ada yang harus menguasai mesin dan peralatan dunia industri, berlatih konfigurasi perangkat peralatan hingga larut malam bahkan mengulang praktik karena hasilnya belum sesuai standar industri. Mereka yang rela menghabiskan waktu istirahat hanya untuk memperbaiki tugas praktik yang gagal.
Saya sering dilapori dengan chat whatsApp dengan dikirimi pesan curhat tangisan mereka karena kegagalan praktek, video-video kebersamaan dengan teman-temannya mengerjakan projek, bahkan tidak jarang pula mereka pulang sekolah malam-malam dan harus menerjang hujan deras. Saya sering melihat mata yang sembab karena semalaman mengerjakan proyek. Wajah mereka terlihat lelah setelah seharian belajar teori lalu dilanjutkan praktik sampai sore. Bahkan beberapa diantaranya menggunakan seragam kucel mungkin karena belum sempat menyetrikanya.
Namun mereka tetap masuk kelas dan melanjutkan belajar karena mereka tahu, tujuan dari semua perjuangan ini hanya satu: bekerja. Bagi sebagian besar anak SMK, mendapatkan pekerjaan bukan lagi sekadar pilihan setelah lulus. Itu sudah menjadi tujuan utama sejak hari pertama mereka masuk sekolah.
Mereka belajar agar cepat diterima industri. Mereka praktik agar dianggap kompeten. Mereka mengejar sertifikasi agar memiliki nilai lebih saat melamar kerja. Dan ironisnya, perlombaan itu bahkan dimulai sebelum mereka benar-benar lulus.
Saat semester akhir dimulai, suasana berubah. Anak-anak yang dulu masih santai mulai sibuk memikirkan lowongan pekerjaan. Mereka mulai membuat CV, mencari informasi perusahaan, bertanya tentang gaji, bertanya tentang tes wawancara, bahkan mulai bersaing satu sama lain demi mendapatkan tempat kerja lebih dulu.
Beberapa dari mereka mulai merasa takut tertinggal. Ada yang berkata, “Teman saya sudah dipanggil perusahaan, Bu.” Ada yang mulai cemas karena merasa kompetensinya belum cukup. Ada yang diam-diam belajar lebih keras karena takut kalah bersaing.
Di usia belasan tahun, mereka sudah dipaksa berpikir tentang pekerjaan, penghasilan, dan masa depan. Kadang saya melihat mereka seperti sedang berlari mengejar sesuatu yang bahkan belum benar-benar mereka pahami.
Mereka belum selesai menikmati masa muda, tetapi hidup sudah meminta mereka segera menjadi dewasa. Dan di balik semua tuntutan itu, saya sadar ada beban lain yang juga saya pikul sebagai guru. Saya bukan hanya mengajar materi dan kompetensi. Saya juga harus menguatkan mental mereka.
Kadang itu menjadi hal yang paling berat karena untuk mempersiapkan mereka menghadapi dunia kerja, saya sering harus terlihat tegas. Tidak sedikit murid yang bilang saya galak. Sebab saya harus marah ketika mereka lalai. Saya harus keras ketika mereka mulai tidak disiplin. Saya harus memaksa mereka bertanggung jawab terhadap tugas dan waktu mereka.
Dan jujur, tidak semua ketegasan itu nyaman dilakukan.
Ada kalanya setelah memarahi siswa, saya justru diam sendiri memikirkan apakah mereka baik-baik saja. Karena saya tahu, beberapa dari mereka sedang membawa masalah hidup yang bahkan orang dewasa pun bisa menyerah menghadapinya. Energi dan emosi saya cukup terkuras, satu kepala tapi seribu masalah di kelas. Tetapi dunia kerja nanti tidak akan selalu memberi pengertian.
Kadang saya juga lelah, karena saya pun punya kehidupan sendiri yang tidak selalu mudah dijalani. Ada urusan pribadi, tanggung jawab, dan beban yang harus saya hadapi. Tetapi saya memahami bahwa menjadi guru bukan hanya tentang mengajar pelajaran, melainkan juga hadir untuk membimbing mereka, dan itu adalah tanggung jawab yang saya pilih.
Industri tidak selalu peduli apakah mereka sedang sedih, lelah, atau punya masalah pribadi. Target tetap berjalan. Waktu tetap berjalan. Persaingan tetap berjalan. Oleh karena itu, mau tidak mau saya harus mengenalkan mereka pada kenyataan itu sejak di sekolah. Bukan untuk membuat mereka takut, tetapi agar mereka tidak hancur saat benar-benar masuk ke dunia kerja nanti. Saya ingin mereka tahu bahwa kemampuan saja tidak cukup. Mental juga harus kuat.
Mereka harus belajar bangkit setelah gagal. Harus belajar menerima kritik. Harus belajar bertahan dalam tekanan. Harus belajar disiplin bahkan ketika tidak ada yang mengawasi.
Dunia industri akan menilai hasil, bukan alasan. Terkadang, proses itu membuat saya terlihat seperti guru yang terlalu keras. Padahal sebenarnya saya hanya takut mereka kalah oleh dunia luar. Saya pernah melihat anak-anak yang pintar tetapi menyerah ketika menghadapi tekanan pekerjaan pertama mereka. Saya pernah melihat lulusan yang memiliki kemampuan luar biasa, tetapi runtuh karena mentalnya tidak siap menghadapi kerasnya dunia kerja. Oleh karena itu saya selalu mencoba menanamkan satu hal kepada mereka: dunia kerja jauh lebih keras daripada sekolah.
Jika di sekolah mereka masih punya guru yang mengingatkan, di dunia kerja mereka akan dituntut sadar sendiri. Jika di sekolah keterlambatan masih bisa dimaklumi, di industri itu bisa menjadi alasan kehilangan pekerjaan. Itulah mengapa saya sering terlihat terlalu menuntut. Sebab di dunia di luar sana tidak akan selembut ruang kelas.
Namun di balik semua itu, jauh di dalam hati saya, mereka tetap anak-anak muda yang sedang bertumbuh. Kadang setelah kelas selesai dan ruang praktik mulai sepi, saya duduk sendiri memikirkan mereka dengan segelas kopi favorit saya. Pahit, tapi lebih pahit kenyataan hidup didunia kerja sekarang untuk mereka yang masih berproses dan bertumbuh di usia yang semuda mereka. Tentang bagaimana anak-anak seusia mereka seharusnya masih bebas menikmati masa muda, tetapi justru harus berlomba mencari pekerjaan bahkan sebelum kelulusan tiba. Tentang bagaimana mereka memikul harapan keluarga di pundak yang masih terlalu muda. Dan tentang bagaimana saya, sebagai guru, harus membantu mereka menjadi kuat meski tahu proses itu sering membuat mereka lelah.
Tetapi di balik semua rasa berat itu, saya tetap bangga kepada mereka. Meski takut, mereka tetap datang ke sekolah setiap pagi. Meski lelah, mereka tetap mencoba belajar. Meski tertekan, mereka tetap berjuang mengejar kompetensi dan masa depan. Itulah hal paling mengagumkan dari anak-anak SMK.
Mereka belajar bertahan bahkan sebelum benar-benar hidup karena sebelum mereka lulus, dunia sudah lebih dulu memaksa mereka siap.

Leave a Reply